Rob Cohen, keturunan Yahudi berusia 83 tahun, selama Perang Dunia Kedua sempat mendekam di Auschwitz-Birkenau, kamp pemusnahan Nazi.
Rabu 27 Januari besok tepat 65 tahun silam Auschwitz dan kamp konsentrasi lain dibebaskan. Di Museum Abad 20, Belanda Utara, Rob Cohen menuturkan kisahnya yang mengerikan itu.
Rob Cohen baru berusia 14 tahun ketika pasukan Jerman menduduki Amsterdam, kota kelahirannya. Ayah, ibu dan kakaknya dideportasi ke Kamp Konsentrasi Sobibor. Mereka tewas di sana. Rob sendiri bisa bertahan hidup setelah 27 bulan mendekam di pelbagai kamp konsentrasi, termasuk 11 bulan di Auschwitz.
Di pinggir jalan
Bertahun-tahun Rob Cohen bungkam tentang pengalamannya di kamp. Tetapi sejak awal tahun 1990an ia rajin berceramah di pelbagai sekolah, memberitahu para murid soal pemusnahan massal yang dilakukan rezim Nazi. Belum lama berselang ia menuturkan pengalamannya yang mengerikan itu pada pameran foto dan benda-benda lain yang diselenggarakan oleh Museum Abad 20 di kota Hoorn, Belanda Utara.
Beberapa hari sebelum Auschwitz dibebaskan oleh pasukan sekutu, Rob diungsikan. Bersama ratusan tahanan lain ia harus menempuh perjalanan selama berhari-hari, padahal waktu itu Eropa sedang musim dingin dengan salju tebal.
Rob Cohen: Kami berjalan dengan pakaian tipis. Mars itu bisa disebut mars kematian. Bisa dibayangkan tidak banyak orang dalam kondisi bisa menempuh perjalanan dingin seperti ini. Kalau ada yang ketinggalan di belakang, langsung mereka ditembak mati. Jenazah mereka ditinggal di pinggir jalan.
Kanibalisme
Sampai akhirnya mars itu berhenti. Rob Cohen dimasukkan ke dalam gerbong terbuka pengangkut barang. Di gerbong itu, tanpa makanan dan minuman, ia harus bisa bertahan selama 10 hari.
Rob Cohen: Perjalanan dalam kereta api terbuka itu mengerikan sekali. Kalau ada yang meninggal dunia, langsung dia ditelanjangi untuk diambil pakaiannya. Kita tidak memperoleh makanan dan minuman. Lalu apa yang terjadi, itulah kanibalisme.
Pada pameran di Museum Abad 20, dipamerkan 200 foto, juga terlihat bintang Yahudi, seragam kamp dan mata uang yang berlaku di kamp konsentrasi. Suara Rob terdengar dalam rekaman penjelasan bagi semua obyek pameran. Ia bertutur tentang mars kematian, tentang penggalian terowongan bagi pembangunan Rudal V2 Jerman. Waktu itu banyak tahanan yang mengalami siksaan berat, juga banyak korban akibat ledakan, siksaan dan canda sadis para penjaga.
John Demjanjuk
Hans Stuijfbergen, direktur Museum Abad 20, bangga dengan pameran ini. Menurutnya sangat penting bagi generasi muda untuk berpengetahuan cukup tentang perang dan pemusnahan massal yang dilakukan Nazi. Karena itu dipamerkan juga foto-foto serta film yang mengerikan, termasuk mayat-mayat kurus, tumpukan mayat, kamar gas dan ovennya.
Sampai sekarang Rob Cohen tetap sangat membenci pelaku pembunuhan massal Perang Dunia Kedua. Sekarang ia tergabung dalam tim jaksa yang mendakwa John Demjanjuk, yang konon pernah menjadi penjaga kamp Sobibor. Ayah dan kakak Rob tewas di kamp itu. Menurutnya Demjanjuk bersalah karena membunuh rata-rata seribu orang perhari, selama berbulan-bulan. Ia sangat berharap orang ini dihukum.
Rob Cohen: Bagi saya dia itu seperti setumpuk sampah. Saya tidak pernah memandangnya. Tidak secuilpun dia menarik saya. Mudah-mudahan dia dihukum atas perbuatannya, itu yang menarik bagi saya.
Pekan ini, secara panjang lebar, Negeri Belanda mengenang pembebaskan Kamp Auschwitz 65 tahun silam. Rabu 27 Desember ditetapkan PBB sebagai Hari Mengenang Holocaust, pemusnahan massal orang Yahudi selama Perang Dunia Kedua. Yang juga diperingati pada hari itu adalah para korban di Kamboja, Rwanda, Srebrenica dan Darfur.
Rabu 27 Januari besok tepat 65 tahun silam Auschwitz dan kamp konsentrasi lain dibebaskan. Di Museum Abad 20, Belanda Utara, Rob Cohen menuturkan kisahnya yang mengerikan itu.
Rob Cohen baru berusia 14 tahun ketika pasukan Jerman menduduki Amsterdam, kota kelahirannya. Ayah, ibu dan kakaknya dideportasi ke Kamp Konsentrasi Sobibor. Mereka tewas di sana. Rob sendiri bisa bertahan hidup setelah 27 bulan mendekam di pelbagai kamp konsentrasi, termasuk 11 bulan di Auschwitz.
Di pinggir jalan
Bertahun-tahun Rob Cohen bungkam tentang pengalamannya di kamp. Tetapi sejak awal tahun 1990an ia rajin berceramah di pelbagai sekolah, memberitahu para murid soal pemusnahan massal yang dilakukan rezim Nazi. Belum lama berselang ia menuturkan pengalamannya yang mengerikan itu pada pameran foto dan benda-benda lain yang diselenggarakan oleh Museum Abad 20 di kota Hoorn, Belanda Utara.
Beberapa hari sebelum Auschwitz dibebaskan oleh pasukan sekutu, Rob diungsikan. Bersama ratusan tahanan lain ia harus menempuh perjalanan selama berhari-hari, padahal waktu itu Eropa sedang musim dingin dengan salju tebal.
Rob Cohen: Kami berjalan dengan pakaian tipis. Mars itu bisa disebut mars kematian. Bisa dibayangkan tidak banyak orang dalam kondisi bisa menempuh perjalanan dingin seperti ini. Kalau ada yang ketinggalan di belakang, langsung mereka ditembak mati. Jenazah mereka ditinggal di pinggir jalan.
Kanibalisme
Sampai akhirnya mars itu berhenti. Rob Cohen dimasukkan ke dalam gerbong terbuka pengangkut barang. Di gerbong itu, tanpa makanan dan minuman, ia harus bisa bertahan selama 10 hari.
Rob Cohen: Perjalanan dalam kereta api terbuka itu mengerikan sekali. Kalau ada yang meninggal dunia, langsung dia ditelanjangi untuk diambil pakaiannya. Kita tidak memperoleh makanan dan minuman. Lalu apa yang terjadi, itulah kanibalisme.
Pada pameran di Museum Abad 20, dipamerkan 200 foto, juga terlihat bintang Yahudi, seragam kamp dan mata uang yang berlaku di kamp konsentrasi. Suara Rob terdengar dalam rekaman penjelasan bagi semua obyek pameran. Ia bertutur tentang mars kematian, tentang penggalian terowongan bagi pembangunan Rudal V2 Jerman. Waktu itu banyak tahanan yang mengalami siksaan berat, juga banyak korban akibat ledakan, siksaan dan canda sadis para penjaga.
John Demjanjuk
Hans Stuijfbergen, direktur Museum Abad 20, bangga dengan pameran ini. Menurutnya sangat penting bagi generasi muda untuk berpengetahuan cukup tentang perang dan pemusnahan massal yang dilakukan Nazi. Karena itu dipamerkan juga foto-foto serta film yang mengerikan, termasuk mayat-mayat kurus, tumpukan mayat, kamar gas dan ovennya.
Sampai sekarang Rob Cohen tetap sangat membenci pelaku pembunuhan massal Perang Dunia Kedua. Sekarang ia tergabung dalam tim jaksa yang mendakwa John Demjanjuk, yang konon pernah menjadi penjaga kamp Sobibor. Ayah dan kakak Rob tewas di kamp itu. Menurutnya Demjanjuk bersalah karena membunuh rata-rata seribu orang perhari, selama berbulan-bulan. Ia sangat berharap orang ini dihukum.
Rob Cohen: Bagi saya dia itu seperti setumpuk sampah. Saya tidak pernah memandangnya. Tidak secuilpun dia menarik saya. Mudah-mudahan dia dihukum atas perbuatannya, itu yang menarik bagi saya.
Pekan ini, secara panjang lebar, Negeri Belanda mengenang pembebaskan Kamp Auschwitz 65 tahun silam. Rabu 27 Desember ditetapkan PBB sebagai Hari Mengenang Holocaust, pemusnahan massal orang Yahudi selama Perang Dunia Kedua. Yang juga diperingati pada hari itu adalah para korban di Kamboja, Rwanda, Srebrenica dan Darfur.

0 komentar:
Posting Komentar