Rabu, 18 Agustus 2010

Profil Presiden termiskin, Mahmud Ahmadinejad

Mahmud Ahmadinejad,
Presiden Iran Simbol Perlawanan melawan Imperialisme

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad adalah simbol perlawanan yang membangkitkan semangat negara-negara Amerika Latin dalam melawan imperialisme. Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad secara berani membuat pernyataan bahwa Pemilihan di Iran yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan pemilihan yang paling bersih dan bebas di dunia. Ahmadinejad tidak lagi menyinggung aksi protes, tetapi bersikeras bahwa pemilihan di Iran telah berlangsung adil dan Ahmadinejad dapat menududuki pemerintah yang sah. Meski demikian, ditengah kemenangan yang penuh keragu-raguan, dia berjanji akan menyelesaikan permasalahan utama dan yang paling penting. Dia juga menyebut ini merupakan awal baru untuk Iran. Namun, Ahmadinejad mengatakan tidak dapat memenuhi tuntutan semua orang.

Mahmud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad (bahasa Persia: محمود احمدی‌نژاد ; lahir di Aradan, Iran, 28 Oktober 1956. Dia adalah Presiden Iran yang keenam dan memperoleh 61.91% suara pemilih pada pilpres Iran tanggal 24 Juni 2005. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3 Agustus 2005. Ia pernah menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 waktu ia terpilih sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang sangat loyal terhadap nilai-nilai Revolusi Islam Iran, 1979

Lahir di daerah desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 120 kilometer arah tenggara Teheran. Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, berasal dari keluarga Syiah. Orang tuanya,seorang Tukang Besi, Ahmad Saborjihan, memberi nama Mahmud Saborjihan saat lahir. Dia menggunakan nama tersebut hingga sebuah keputusan besar mendorong keluarganya untuk hijrah ke Teheran pada paruh kedua tahun 1950-an. Di Teheran, ayahnya merubah namanya menjadi Mahmud Ahmadinejad sebagai isyarat religiusitas dan semangat mencari kehidupan yang lebih baik, karena Saborjihan dalam bahasa Parsi berarti pelukis karpet, pekerjaan yang jamak dilakukan di sentra karpet seperti Aradan, sedangkan Ahmadinejad berarti ras yang unggul, bijak dan paripurna.
Pendidikan

Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi. Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan (daftar-e tahkim-e vahdat), organisasi mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.
Bergabung dengan Imam Khomeini

Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam misi-misi di Kirkuk, Irak. Dia kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil dari 1993 hingga Oktober 1997.
Walikota Teheran

Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi semacam manajer dalam harian Hamshahri dan memecat sang editor, Mohammad Atrianfar, pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Presiden Mohammad Khatami pernah melarangnya menghadiri pertemuan Dewan Menteri, suatu hak yang biasa diberikan kepada para walikota Teheran. Hal ini dikarenakan pada waktu Khatami menuju Universitas Teheran, Khatami terjebak macet. Khatami mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjabat walikota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah tersebut, Ahmadinejad justru berkata: “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”. Namun Ahmadinejad tetap santai menghadapi larangan tersebut.

Presiden Iran

Setelah dua tahun sebagai walikota Teheran, Ahmadinejad lalu terpilih sebagai presiden baru Iran. Tak lama setelah terpilih, pada 29 Juni 2005, sempat muncul tuduhan bahwa ia terlibat dalam krisis sandera Iran pada tahun 1979. Iran Focus mengklaim bahwa sebuah foto yang dikeluarkannya menunjukkan Ahmadinejad sedang berjalan menuntun para sandera dalam peristiwa tersebut, namun tuduhan ini tidak pernah dapat dibuktikan.

Presiden Iran terpilih Mahmoud Ahmadinejad akan diambil sumpahnya sebagai presiden negara itu, Rabu ini, menyusul keterpilihanya kembali yang disengketan telah mengekspos perpecahan yang dalam pada kepaduan kaum ulama. Ditengah cedera politik yang akut, Ahmadinejad akan diambil sumpahnya di depan parlemen dan kemudian memiliki waktu dua pekan untuk menyusun kabinet pemerintahannya agar bisa disetujui oleh DPR yang didominasi kelompok konservatif. Laman-laman milik kelompok oposisi menyatakan para pendukung musuh utama Ahmadinejad, Mirhossein Mousavi, berencana berkumpul di depan gedung parlemen untuk memprotes upacara penobatan Ahmadinejad itu.

Pemilu yang disebut oleh tokoh-tokoh kelompok moderat telah dirancang untuk dimenangkan kembali oleh Ahmadinejad, menyulut kekerasan terburuk sejak Revolusi Islam 1979. Pihak berwenang mengatakan pemilu kali ini adalah pemilu paling sehat sejak era revolusi. Presiden AS Barack Obama dan para pemimpin Prancis, Inggris, Italia dan Jerman, semuanya telah menyatakan tidak akan menyelamati Ahmadinejad atas keterpilihannya lagi itu.

Namun saat ditanya apakah Obama mengakui Ahmadinejad sebagai Presiden Iran, Juru Bicara Robert Gibbs berkata, “Dia pemimpin terpilih (pemenang pemilu).” Mousavi dan sejawat moderatnya yang juga kalah Mehdi Karoubi, menolak pemerintahan baru dengan menyebutnya tidak sah sekaligus mengabaikan tokoh paling berkuasa di Iran, Pemimpin Spiritual Ayatollah Ali Khamenei, yang mengakui hasil pemilu dan mendukung Ahmadinejad. Pada satu acara Senin, Khamenei menggambarkan Ahmadinejad sebagai seorang pemberani, pekerja keras dan bijaksana. Para pemimpin kelompok moderat, termasuk mantan presiden Mohammad Khatami dan Akbar Hashemi Rafsanjani, tidak hadir dalam acara Senin itu, sedangkan ratusan pendukung Mousavi berkumpul di beberapa lapangan terbuka di
Teheran, namun kemudian dibubarkan oleh polisi anti huru hara.

Kacau balau

Setidakanya 20 orang terbunuh sejak Pemilu 12 Juni dan ratusan orang ditahan. Dalam satu peradilan massal, Sabtu, sekitar 100 orang reformis, termasuk sejumlah tokoh terkemuka, menghadapi dakwaan, diantaranya bertindak mengancam keamanan nasional dengan menghasut kerusuhan pasca Pemilu. Sesi peradilan berikutnjya yang disebut sebagai “peradilan unjuk kekuatan” oleh Khatami dan Mousavi, akan diseleggarakan Kamis ini. Ahmadinejad juga tengah berada dalam tekanan dari sekutu-sekutu garis kerasnya mengenai pemilihan Esfandiar Rahim-Mashaie sebagai wakil presidennya. Dia mengacuhkan tekanan itu selama seminggu sebelum kemudian mematuhi perintah Pemimpin Spiritual Khameni untuk menanggalkan Mashaie.

Percekcokan dalam soal pemilihan Mashaie ini tampaknya akan berkomplikasi pada pilihan presiden dalam penyusunan kabinet baru yang akan diajukan ke parlemen yang kemungkinan akan ditolak jika dia mengajukan orang-orang lingkaran dalamnya saja. Hubungan diplomatik Teheran dengan seluruh dunia ditentukan oleh figur paling berkuasa di negeri itu, Pemimpin Spiritual dan Penguasa Tertinggi Khamenei. Iran menuduh Barat, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, telah menghasut kekerasan pasca pemilu di negara itu untuk menggulingkan kekuasaan mullah. Tidak adanya perubahan dalam kebijakan luar negeri berarti tidak ada peluang untuk mendekatnya Iran dengan Barat mengenai masalah program nuklir negara itu, yang dituduh AS dan sekutunya di Eropa sebagai pemula untuk menciptakan senjata nuklir, sesuatu yang dibantah oleh Iran
Kontroversi

Kutipan pernyataannya dalam sebuah pertemuan di hadapan para mahasiswa pada 26 Oktober 2005 dari pernyataan Ayatollah Khomeini yang menyerukan agar Israel “dihapus dari peta dunia” memicu kontroversi. Selain, menuai kecaman dari berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Shimon Peres. Peres bahkan membalas dengan menuntut agar Iran dikeluarkan dari keanggotaan di Perserikatan Bangsa-bangsa.

Pernyataan yang kontroversial ini diulang kembali pada 14 Desember 2005. Saat itu, ia berkata bahwa Holocaust (peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh rezim Nazi pada masa Perang Dunia II) hanyalah sebuah mitos yang digunakan bangsa Eropa untuk menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam. Ia juga sempat menyelenggarakan konferensi tentang Holocaust.

Sementara, kritik dalam negeri mengenai kebijakan domestik dan luar negeri terus mengalir deras. Kritik datang dari tokoh ulama besar Ayatollah Hossein Ali Montazeri. Merujuk retorika Ahmadinejad terhadap Amerika Serikat, Montazeri menyatakan bahwa sangat perlu bertindak logis terhadap musuh dan tidak memprovokasi. Bagi Montazeri, ekstremisme tidak berbuah baik untuk rakyat. Iran menegaskan bahwa pengembangan teknologi nuklir merupakan hak yang tidak bisa disangkal meskipun Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium. Ahmadinejad mendapat kritikan dari kalangan konservatif maupun reformis mengenai kebijakan ekonominya dan cara dia menangani isu nuklir Iran.
Keturunan Yahudi

Mahmud Ahmadinejad dikatakan kemungkinan besar masih keturunan Yahudi. Ia sangat keras terhadap Israel mungkin untuk menutupi latar belakangnya. Nama belakang aslinya adalah Sabourjian. Orang tuanya memeluk Islam.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ternyata keturunan Yahudi yang sudah masuk Islam. Nama keluarganya yang asli adalah Sabourjian, nama Yahudi yang artinya ‘Penenun Kain’. Asal-usul itu terungkap dari foto hasil jepretan staf kepresidenan saat Ahmadinejad berpose mengangkat paspornya pada pemilu Maret lalu. “Close up dari paspor itu mengungkap dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourijan,” demikian dikutip detikcom dari The Daily Telegraph edisi Sabtu (3/10/2009). Catatan singkat yang tertera pada paspor itu menunjukkan bahwa keluarga Sabourjian diduga mengubah namanya menjadi Ahmadinejad ketika mereka memeluk Islam setelah kelahiran Mahmoud, kini presiden.

Sabourjian secara tradisi adalah nama keluarga Yahudi dari sekitar Aradan, tempat kelahiran Mahmoud Ahmadinejad, sebelah tenggara ibukota Teheran. Nama ini berasal dari frasa “Penenun dari Sabour”, merujuk pada syal atau selendang Yahudi Tallit di Persia. Nama Sabourjian juga terdapat dalam daftar nama yang dilestarikan, dikompilasi oleh Departemen Dalam Negeri Iran. Seorang ahli mengenai Yahudi Iran mengatakan di London bahwa akhiran ‘jian’ pada nama itu secara khusus menunjukkan bahwa keluarga orangtua Mahmoud dahulu adalah Yahudi taat. “Dia mengubah namanya atas alasan-alasan agama. Sabourjian adalah nama Yahudi yang terkenal di Iran,” ujar ahli, yang juga Yahudi kelahiran Iran dan menetap di London.

Jurubicara kedubes Israel Ron Gidor di London mengatakan bahwa hal itu tidak bisa dikaitkan dengan latarbelakang Ahmadinejad. “Itu bukan sesuatu yang perlu kita bicarakan,” ujar Gidor. “Aspek latarbelakang Ahmadinejad ini menjelaskan banyak hal tentang dia. Setiap keluarga yang beralih ke keyakinan lain mengambil identitas baru dengan mengecam keyakinan lamanya,” kata Ali Nourizadeh dari Centre for Arab and Iranian Studies, merujuk sikap tegas Ahmadinejad terhadap Israel. Sebelumnya harian Trouw di Belanda juga mengungkap eksistensi orang-orang Yahudi di negara-negara Timur Tengah. Mereka mendapat perlindungan berabad-abad, dengan puncaknya saat perburuan dan pengusiran Yahudi dari Spanyol.

Di Maroko bahkan orang-orang Yahudi menjadi penasehat kerajaan hingga sekarang dan warga Yahudi biasa hidup damai bertetangga dengan umat Islam. Keadaan menjadi serba salah dan meruncing mulai tahun 1948 setelah gerakan Zionisme memproklamirkan negara Israel di Palestina. Kaum Yahudi Ortodoks tidak mengakui negara Israel yang dicetuskan kaum Zionis ini

* Rencana menonton timnya berlaga di Piala Dunia 2006 di Jerman dihambat berbagai elemen masyarakat setempat, sehingga izin tidak diberikan. Bahkan warga Yahudi di Jerman menentang kehadirannya mengingat pernyataannya seputar Holocaust. “Penyangkalan kekejaman Nazi adalah pelanggaran serius di Jerman,” kata Charlotte Knobloch, Ketua Central Council Jews. Knobloch menuding Ahmadinejad sebagai “Hitler kedua”. Menteri Dalam Negeri Jerman Guenther Beckstein menyatakan, “Kami harus menegaskan bahwa ia tak diinginkan di sini. Lebih baik ia tak usah datang.”

Mengecam Pers Barat

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengecam media Barat yang dianggap tidak sehat dan sering memberitakan miring terhadap dirinya dan negara-negara berkembang seperti Iran dan Indonesia. “Mereka mengklaim independen, tetapi sesungguhnya punya angle dan agenda pemberitaan sendiri. Media seperti itu tidak sehat dan negatif,” katanya.Kepada Ahmadinejad ditanyakan apakah dirinya merasa tidak senang dengan pemberitaan media Barat yang selalu memojokan dirinya dan Iran. Presiden yang dikenal vokal dan bersuara keras terhadap Amerika Serikat itu mengatakan dirinya tidak terganggu dengan media Barat yang suka menjadikannya bulan-bulanan. “Saya tidak bersedih kalau orang jahat memberitakan negatif terhadap Iran, karena sudah pasti itu kebohongan. Tapi saya sangat sedih kalau orang baik seperti anda memberitakan hal miring terhadap Iran,” katanya.

Media Barat dan media di Asia Pasifik, katanya, punya cita rasa yang berbeda dalam memilih angle pemberitaan dan agenda liputannya. Media di Asia Pasifik cenderung mengarah kepada pemberitaan yang sejuk, damai dan menyebarkan persahabatan ke seluruh penjuru dunia. “Laporannya yang akurat membuat hati dan gagasan bersatu untuk kehidupan yang lebih baik. Saling menghargai antara negara adalah karakter dari media di negara berkembang,” katanya. Sedangkan media Barat yang dipengaruhi Yahudi, menurut Ahmadinejad, penuh prasangka dan siasat. Media Barat selalu membesar-besarkan hal-hal kecil di negara berkembang seperti Iran dan Indonesia, sementara mereka mengabaikan persoalan dan isu besar seperti yang terjadi di Palestina dan di Amerika Serikat sendiri.

Sebagai contoh, masalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di jalur Gaza oleh media Barat diputarbalikan mengenai siapa si jahat dan siapa si baik. Media Barat membalikan fakta dengan menggambarkan warga Gaza sebagai teroris, sementara Israel disebutkan sebagai pembela dunia bebas. Contoh yang lain, Ahmadinejad mengatakan, jika terjadi keributan kecil di penjara Indonesia atau unjuk rasa di Iran, media Barat dengan gegap gempita memberitakannya. Peristiwa yang biasa dan wajar terjadi di mana saja itu menjadi fokus pemberitaannya. “Mereka memberitakan peristiwa di Indonesia atau di Iran itu dengan bersemangat. Diberikan analisa, diambil kesimpulan, seolah-olah hal besar dan buruk terjadi di negeri kita,” katanya.

Tidak Adil

Sudut pandang pemberitaan seperti itu menurut Ahmadinejad, merupakan sudut pandang yang sangat tidak adil. Ia mengatakan, keributan di penjara Amerika Serikat dan penanganan refresif terhadap pengunjuk rasa di negara Barat tidak diliput dan dianalisa sebagaimana mereka melakukannya terhadap peristiwa yang terjadi di Indonesia atau Iran. “Berapa banyak kerusuhan besar di penjara Amerika dan kebrutalan aparat keamanan di sana yang terjadi. Tapi kita tidak melihatnya ada dan dibesar-besarkan di media,” lanjutnya.

Presiden Iran itu menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke New York saat Sidang Majelis Umum PBB beberapa bulan lalu. Hampir semua media utama di negeri itu seperti Washington Post, New York Times, Newsweek, dan jaringan televisi AS, mewawancarainya. Yang mengherankan Ahmadinejad adalah hampir semua pertanyaan, arah pemberitaannya, dan hasil liputannya sama. “Ini mengherankan. Bagaimana mungkin terjadi? Mereka mengklaim diri independen, tapi ternyata sama semua. Barangkali pemilik media-media yang sepertinya banyak itu hanya satu, yaitu kaum Yahudi,” tegasnya sambil mengusap janggutnya yang lebat.

Untuk mengakhiri dominasi pemberitaan media Barat yang seperti itu, Ahmadinejad menyerukan agar anggota Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) yang beranggotakan 40 kantor berita dari 33 negara itu bersatu dan bersinergi dalam menyuarakan kebenaran dan perdamaian. “Hanya dengan cara itu, dominasi media Barat yang dipengaruhi Yahudi, bisa diimbangi dan diakhiri di masa depan,” demikian Presiden Ahmadinejad

Kritik PBB

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa­Bangsa yang semula menjadi tumpuan harapan umat manusia pasca-Perang Dunia 11 kini diselewengkan dan jadi simbol ke­tidakadilan. Apa yang dilakukan DK PBB selama 60 tahun ini?

“Apa yang dilakukan DK PBB terhadap masalah Palestine? Apa yang dilakukan. DK PBB terhadap masalah yang terjadi di Jalur Gaza, Irak, dan Afganistan terakhir ini?” demikian dikatakan Presi­den Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan nada kesal dalam kon­ferensi pers di sela-sela Konfe­rensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam di Dakar, Sene­gal, Kamis (13/3) malam.

la menyatakan, atas nama tra­gedi 11 September 2001, AS me­nyerang Afganistan dan Irak. “DK PBB ternyata hanya diam atas semua itu. Puluhan ribu orang tewas dan ratusan ribu lainnya luka-luka di Irak dan Afganistan. Apa yang dilakukan DK PBB itu?” kata Ahmadinejad.

Lumpuh
Presiden Ahmadinejad mene­gaskan, DK PBB selama 60 tahun ini hanya melindungi negara kuat dan menjadi bemper negara kaya. Sebaliknya, ujar dia, DK PBB mengabaikan kaum lemah. Con­tohnya, DK PBB diem saja ter­hadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza, di mane rumah-rumah dan infrastruktur hancur Berta ratusan manusia te­was dan. luka. “Jalur Gaza hingga saat ini menghadapi blokade yang tidak berperikemanusiaan. DK PBB tidak berbuat apa-apa untuk menolong tangisan penduduk Ja­lur Gaza,” katanya.

Menurut dia, rakyat di dunia ini tak akan pernah melihat ke­adilan jika filosofi dan mekanis­me kinerja DK PBB seperti seka­rang ini. la mengajukan sejumlah solusi bagi terciptanya perdamai­an, keadilan, dan keamanan di dunia ini.

1. Hindari opsi militer dan prioritaskan pende­katan kemanusiaan
2. Harus diubah filosofi dari sistem kerja DK PBB.
3. Umat Islam kembali pa­da ajaran agamanya secara kon­sisten yang menjamin tercipta­nya toleransi dan solidaritas. Tentang program nuklir Iran, Ahma­dinejad mengatakan, adalah hak rakyat Iran mengembangkan tek­nologi nuklir selama itu untuk kebajikan manusia.Ia berharap OKI mengambil keputusan yang sesuai tentang program nuklir Iran.Presiders Ahmadinejad mem­bantah Iran keberatan atas Amandemen Piagam OKI. “Iran tak memiliki problem dengan Amandemen Piagam OKI. Iran adalah negara besar, maka layak kalau dia punya usulan menyang­kut Amandemen Piagam. OKI itu,” katanya.

Teroris

Ia menuduh ada sebuah negara yang melakukan teroris negara tanpa menyebut nama negara itu. “Teroris negara yang terorgani­sasi itu adalah problem hakiki yang telah membawa korban ri­buan kaum wanita dan anak ke­cil,” kata Ahmadinejad.

Ditambahkan, ada 2 faktor dari adanya teroris negara. itu. kesombongan dan ketiadaan akhlak. Akibat dua fak­tor itu, agresi semakin menjadi­-jadi. “Korban tewas dan luka-luka dalam perang terakhir ini adalah yang paling besar dalam sejarah,” katanya. Maka, ujar dia, asas ke­manusiaan dan akhlak harus di­junjung tinggi. Ia mengatakan, serangan militer sebuah negara terhadap kaum wanita dan anak menunjukkan kelemahan dan ke­gagalan negara itu.

Iran Kuat milternya

Iran rupanya mulai bersiap diri untuk bisa menjadi negara yang paling ditakuti di kawasan Timur Tengah dengan menggelar parade militer tahunan di Ibukota Teheran. Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang pada saat Sabtu 17 April kemarin memimpin jalannya parade bahkan memuji kekuatan militer negara itu. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa militer Iran saat ini sangat kuat dan akan ada negara lain yang berani menyerang.

Hal itu terlihat dari sejumlah kekuatan militer Iran yang dipamerkan seperti peluru kendali Ghadr, Sajjil dan Shahab III yang memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer. Artinya, Israel dan pangkalan Amerika Serikat sudah dalam jangkauan rudal Iran. Rudal Shahab III bahkan mampu membawa hulu ledak nuklir yang menambah kekhawatiran Amerika Serikat terhadap program uranium Iran berkedok pembuatan bom atom. Dengan adanya parade ini, Ahmadinejad seolah meinta Amerika Serikat berhenti mendukung Israel dan menarik pasukan dari Timur Tengah dan Afghanistan. maklum, keberadaan pasukan Amerika Serikat di Irak, Afghanistan dan Teluk Persia dianggap sebagai ancaman di kawasan tersebut.

Kecam negara Barat

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, Rabu (11/3) mengutuk negara Barat atas penyebab krisis ekonomi global yang menganut paham kapitalis. Pernyataan itu dilontarkan saat membuka pertemuan Organisasi Kerjasama Ekonomi di Teheran yang dihadiri 10 negara, termasuk Afghanistan, Turki, Pakistan dan Uzbekistan. “Ekonomi kapitalis ambruk dan pasar bebas juga gagal,” tegasnya. Pemimpin beraliran keras itu menyerukan kapitalis harus diganti dengan sistim ekonomi dunia baru. Ahmadinejad berulangkali mengutuk Barat atas krisis keuangan dunia yang juga menghantam Republik Islam Iran itu, lapor AP, kemarin

Kritikan terhadap Barat terus dikumandangkannya untuk menutupi masalah dalam negeri yang mulai bermasalah, setelah sanksi dari DK PBB. Sang presiden yang akan ikut pemilu presiden pada Juni 2009 mendapat kritikan keras dari reformis dan partai konservatif atas kegagalannya mengatasi masalah ekonomi, khusus inflasi sampai 30 persen.

Jatuhnya harga minyak dunia telah mempengaruhi ekonomi Iran, walau dilaporkan pertumbuhan ekonomi 5 persen. Bulan lalu, Badan Energi PFC di Washington mengkritik keras Ahmadinejad atas kegagalan mencegah jatuhnya harga minyak.Sementara, dalam pertemuan kemarin, Ahmadinejad juga menyerukan integrasi perekonomian regional lebih besar. Dia mendesak anggota ECO untuk mendirikan sebuah bank bersama yang berfungsi mempromosikan perdagangan antarkawasan.

Kritik dan Kecam Amerika Serikat

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mendesak Amerika Serikat untuk meninggalkan kawasan Timur Tengah (Timteng), seperti dilaporkan media massa setempat. Ketika berpidato di depan massa di kota Yasouj, Iran baratdaya, Ahmadinejad mengatakan “Anda (AS) lebih baik mendengar nasehat rakyat Iran: ‘Tinggalkan kawasan itu’,” menurut laporan tersebut.”Tinggalkan Afghanistan, tinggalkan Irak, tarik pasukanmu, dan uruslah urusanmu sendiri,” kata Ahmadinejad.Presiden Iran juga menawarkan diri untuk membantu AS dan sekutu-sekutunya untuk keluar dari “rawa-rawa” yang mereka ciptakan sendiri di kawasan itu.

Pada April silam ketika berpidato dalam acara peringatan Hari Angkatan Darat Iran, Presiden Ahmadinejad mengatakan campur tangan negara asing merupakan akar dari semua ketegangan dan perpecahan di kawasan tersebut. “Oleh karena itu, pasukan asing harus ditarik seluruhnya dari kawasan tersebut,” ujarnya menegaskan.

Ketika berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York sebelumnya, Ahmadinejad juga menuduh negara-negara Barat, terutama AS, bersikap standar ganda menyangkut masalah Timteng. “Sangat disesalkan bahwa pemerintah AS tidak hanya menggunakan senjata nuklir, tapi juga terus mengancam untuk menggunakan senjata-senjata itu terhadap negara-negara lain, termasuk Iran,” katanya.Ahmadinejad mengatakan pengalaman di masa lalu membuktikan bahwa jalan terbaik untuk membangun dan memelihara stabilitas keamanan di Timur Tengah adalah lewat koordinasi dan kerja sama dari seluruh pemerintah regional dan dunia internasional. Para pejabat Iran sebelumnya menegaskan bahwa Pasukan Barat di Irak dan Afghanistan merupakan akar persoalan di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Presiden Iran berhaluan keras, Mahmoud Ahmadinejad melontarkan perang kata-kata dengan menyerang balik Presiden AS, Barack Obama. Dia menuduh Washington sebagai dalang kerusuhan pascapilpres dan perbaikan hubungan ke negara kembali terancam. “Kami terkejut dengan pernyataan Tuan Obama,” kata Ahmadinejad dalam siaran televisi negara, kemarin. “Tidakkah dia mengatakan bahwa dia ingin membuat perubahan. Mengapa dia menentang itu?” tanyanya. “Mereka mengatakan ingin berbicara dengan Iran, tetapi, apakah cara itu benar. Sebetulnya, mereka telah membuat kesalahan,” tegas Ahmadinejad.

Sebelumnya, Obama melontarkan pernyataan keras terhadap Ahmadinejad. Kini Obama tak bisa membendung kekesalannya pada Ahmadinejad. Gara-garanya, Ahamadinejad meminta Obama untuk minta maaf karena telah mengkritik respons pemerintah Iran terhadap para pendemo. Dicetuskan Obama, rezim Iran seharusnya lebih memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada para demonstran yang ditangkap, disiksa dan dibunuh. “Kekerasan yang dilakukan terhadap mereka adalah keterlaluan,” cetus Obama. “Kami melihatnya dan kami mengutuknya,” imbuhnya.

“Saya tidak menganggap serius pernyataan Ahmadinejad soal permintaan maaf, apalagi mengingat fakta bahwa AS telah bersikap untuk tidak ikut campur dengan proses pemilihan di Iran,” tegas Obama. “Saya sarankan Ahmadinejad untuk memikirkan baik-baik tentang kewajibannya pada rakyatnya sendiri,” tutur Obama seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (27/6/). “Dan dia mungkin ingin mempertimbangkan untuk melihat keluarga mereka yang telah dipukuli atau ditembak atau ditahan,” tandasnya.

Obama bahkan kini terang-terangan menyatakan dukungannya pada Mirhossein Mousavi, yang dikalahkan Ahmadinejad dalam pilpres Iran 12 Juni lalu. Padahal sebelumnya Obama pernah berujar bahwa antara Ahmadinejad dan Mousavi tak banyak berbeda. Obama juga mengakui penindasan Iran atas demonstran telah membengkokkan harapannya bagi pembicaraan langsung dengan Teheran, tapi mengatakan pembicaraan nuklir multilateral internasional akan terus berlangsung.

“Tak diragukan bahwa setiap dialog langsung atau diplomasi dengan Iran akan terpengaruh oleh peristiwa beberapa pekan belakangan,” kata Obama setelah pembicaraan di Gedung Putih dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. Namun Obama mengatakan pembicaraan oleh kelompok internasional P5-plus-1 mengenai program nuklir Iran tampaknya akan terus berlangsung. Ia menyatakan kendati berbicara dengan “satu suara” mengenai kerusuhan di Teheran, dunia perlu mengakui bahwa prospek Iran dengan senjata nuklir adalah “masa besar”. “Dugaan kami ialah … anda akan terus menyaksikan pembicaraan multilateral dengan Iran,” katanya

0 komentar:

Posting Komentar